Selasa, 13 Agustus 2024

Relevansi Dasa Darma Pramuka dalam Ajaran Islam


Salam Pramuka !!
Memeriahkan Hari Pramuka yang ke-63, sengaja saya susun tulisan ini untuk Gerakan Pramuka dan merupakan buah kepedulian untuk organisasi ini. Semoga bermanfaat.

Relevansi Nilai-Nilai Dasa Darma Pramuka dalam Ajaran Islam.

1. Taqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari kita mendengarkan kata taqwa, paling tidak ketika mendengarkan khutbah Jum'at, ceramah agama atau pada kegiatan lainnya. Sederhananya taqwa bisa dimaknai dengan "melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya".
Perwujudan dari taqwa salah satunya adalah ibadah yang meliputi dua bentuk yang harus dijaga dan dipelihara, pertama memelihara hubungan dengan Allah Swt. (Hablumminallah/ Vertikal) antara manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai Khalik. Seperti shalat lima waktu, puasa, zakat dan yang lainnya. Kedua, memelihara hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas/ Horizontal). Seperti menjalin silaturahmi, tolong menolong dalam kebaikan dan sebagainya.

2. Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia

Sudah kita ketahui bahwa Alam merupakan tempat kita hidup, di dalamnya juga terdapat flora dan fauna yang memberikan manfaat kepada kita bahkan manusia hampir sepenuhnya bergantung hidup kepada Alam. Oleh karena itu sangat patut kita untuk mencintai Alam.
Adanya kerusakan alam berupa tanah longsor, sumber mata air terhenti, satwa liar mati diracun, ditembak atau adanya udara, air dan tanah yang tercemar itu terjadi karena ulah manusia yang hanya mementingkan kemauan nafsunya saja. Fakta ini tercantum dalam Firman Allah Swt. Ar Rum Ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ٤١.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena tangan manusia"

3. Patriot Yang Sopan dan Ksatria

"Patriot" dan "Ksatria" ini sangat ideal untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari utamanya bagi mereka yang anggota pramuka sebagai satu langkah terpuji dalam mengisi kemerdekaan negara kita. Bila kita sederhanakan kembali patriot dan ksatria ini adalah pecinta atau pembela tanah air yang gagah dan berani memiliki keterampilan, mandiri serta mencintai tanah airnya yang dilandasi oleh rasa taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


4. Patuh dan Suka Bermusyawarah

Sebagai pelajar biasanya memilih salah satu kegiatan ekstrakulikuler. Seperti halnya pramuka yang senantiasa memperoleh bimbingan dan pengarahan dari pembinanya, jika belum memahami maka seringkali meminta petunjuk, saran dan nasehat. Sebaliknya jika sudah memahami seseorang akan memberikan sumbang saran kepada yang lainnya yang belum memahami. Jika terjadi perbedaan pendapat maka tempuhlah dengan cara yang baik, cara yang diajarkan oleh ajaran Islam yaitu dengan jalan musyawarah. Jika kesepakatan sudah disetujui maka segala konsekuensinya harus ditanggung bersama.

5. Rela Menolong dan Tabah

Dalam bahasa arab rela ini adalah Ridha, yang berarti senang dan ikhlas menerima dengan hati yang tulus. Berbuat sesuatu untuk orang lain tanpa pamrih. Perbuatan ikhlas dan tulus inilah diharapkan akan dicatat oleh Allah Swt. Dalam Ajaran Islam, rela atau ikhlas menjadi syarat untuk diterimanya amal seseorang yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah Swt.
Kemudian menolong yang merupakan perbuatan baik kepada orang lain yang memang sangat diharapkan oleh orang lain dan kegiatan tersebut semata-mata diniatkan untuk kewajiban sebagai makhluk terhadap sesama makhluk hidup, tanpa mengharap balasan apapun melainkan hanya untuk memenuhi perintah Allah dan beribadah kepada-Nya.

6. Rajin, Terampil dan Gembira

Rajin, terampil dan gembira yang memiliki akar sejarah yang jauh dalam kehidupan dan kepribadian bangsa Indonesia, misal dalam kehidupan sehari-hari kita kenal pepatah rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Demikian juga dengan keterampilan, seseorang yang memiliki keterampilan khusus dalam pekerjaannya tentu akan bekerja dengan baik. Dan tidak terkecuali pentingnya sikap gembira yang seringkali menjadi kunci dan sumber energi bagi seseorang untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Khusus seorang pramuka diharapkan tampil sebagai sosok figur yang rajin selaras dengan ajaran Islam, Firman Allah Swt. dalam surah At Taubah ayat 105:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ١٠٥.

"Dan katakanlah bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

7. Hemat Cermat dan Bersahaja

Ajaran Islam mensyari'atkan kepada ummatnya agar senantiasa hidup hemat, cermat dan bersahaja. Apalagi dalam suatu kelompok kecil dalam keluarga. Hendaknya diperhitungkan antara pemasukan dan pengeluaran. Dalam arti tidak menjurus pada sifat kikir dan boros, sebab hal tersebut akan berakibat buruk. Firman Allah Swt. Dalam surah Al Furqan ayat 87:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًۭا ٦٧.

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah ..di tengah-tengah yang demikian itu."

8. Disiplin, Berani dan Setia.

Seorang Pramuka selalu dituntut agar memiliki sikap yang teguh dan selalu berani dalam melaksanakan tata tertib yang berlaku. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Saw. Bukanlah agama yang menenggalamkan dirinya dalam peribadatan tanpa memperdulikan kehidupan dunia akan tetapi mengajarkan umatnya untuk berjuang, bekerja sekuat tenaga untuk memperbaiki nasib penghidupannya.
Umat Islam telah diperintahkan untuk bekerja keras, tanpa mengenal kerja setengah-setengah yang akan mendatangkan kekecewaan dan kerugian belaka. Setiap orang akan mendapatkan hasil usaha sesuai dengan apa yang dilakukannya. Sebagaimana Firman Allah Swt. Surah An-Najm ayat 39:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩.

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah dikerjakannya".


9. Bertanggung Jawab dan Dapat Dipercaya.

Bertanggu jawab terhadap segala tugas dan kewajiban sepenuhnya akan menimbulkan kepercayaan dari orang lain. Hakekat dari bertanggung jawab dan dapat dipercaya dalam Islam sangatlah luas, mulai dari dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat. Sebagai seorang Pramuka, yang merupakan harapan dan andalan bangsa yang akan meneruskan perjuangan, bertanggung jawab atas kelestarian bangsanya, maka dengan mencontoh akhlak Rasulullah Saw. yang pada diri pribadinya mencerminkan pimpinan yang andil, mengagumkan, penuh pesona dan keteladanan seperti dinyatakan dalam surah Al Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا ٢١.

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah Saw. terdapat contoh yang baik".

10. Suci dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan.

Poin terakhir ini tentunya tidak terlepas dari tujuan hidup manusia itu sendiri untuk hidup di dunia ini. Dari beragamnya sifat baik dan buruk yang dimiliki manusia namun yang paling menonjol adalah dari segi perkataan dan perbuatan. Nilai ini memberikan arahan kepada setiap orang, termasuk pramuka untuk bersikap bersih atai positif dalam segala hal, baik dalam berpikir, berkata, maupun bebuat. Hal tersebut sejalan dengan Firman Allah Swt. dalam surat al-Hujarat ayat 12:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ ١٢

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang".

Wallahu a'lam.

Ref: - Munira (1995), A. Sobirin (2022)


Selasa, 06 Agustus 2024

Fikih Masa Mujtahid #1


 Al-Qur'an menjadi sumber fikih pada masa Nabi, kemudian di masa sahabat berkembang dengan penambahan petunjuk atau sunah dari Nabi dan ijtihad sebagai sumber penetapan fikih saat itu. Setelah masa sahabat berlalu penetapan fikih dengan ijtihad sudah semakin berkembang dan meluas. Sudah terlihat kecenderungan dua sumber itu mengarah kedalam dua bentuk.

Bentuk pertama, lebih banyak menggunakan hadis Nabi dalam menetapkan hasil ijtihad dan lebih sedikit menggunakan ijtihad. Walupun keduanya (hadis dan ijtihad) masih tetap dijadikan sumber. Maka dari sinilah cikal bakal lahirnya kelompok ahlul hadis. Wilayahnya meliputi Hijaz wabilkhusus Madinah. Tentunya hal ini dilatarbelakangi karena ahlul hadis muncul di wilayah Hijaz khususnya Mekah dan Madinah yang menjadi tempat Nabi bermukim dalam mengembangkan Islam. Sehingga orang-orang di sana lebih banyak mengetahui tentang kehidupan Nabi dan dengan sendirinya banyak mendengar dan mengetahui hadis dari Nabi.

Bentuk kedua, kebalikannya dari kelompok di atas, yakni lebih mengedepankan akal atau ra'yu ketimbang hadis, meskipun hadis juga banyak digunakan. Kelompok ini disebut ahlul ra'yu, wilayah sebarannya di Kufah dan Basrah Negara Irak yang merupakan kebalikannya karena jauhnya lokasi dari wilayah kehidupan Nabi membuat pengetahuan akan hadis Nabi tidak sebanyak yang diperoleh umat Islam di Hijaz. Selain itu kehidupan sosial dan muamalat yang begitu luas dan kompleks karena lokasinya yang lebih maju dari Hijaz sehingga untuk mengatasi itu semua mereka lebih banyak dan lebih sering menggunakan ijtihad dalam penetapan fikih.

Dua kecenderungan ini bisa kita pahami karena adanya dua latar belakang historis dan sosial budaya yang berbeda hingga kedua aliran di atas masing-masing melahirkan madrasah-madrasah fikih serta melahirkan para ahli fikih terkemuka.

Bersambung bagian 2 ..

Wallahu a'lam


Referensi : Ushul Fiqh Jilid 1. Prof. Amir Syarifudin